Simak Hukum Investasi Emas Dalam Islam di Indonesia, Penting Sekali!

Muslim yang ingin melakukan investasi logam mulia hendaknya memperhatikan hukum investasi emas dalam islam. Belakangan ini investasi emas telah menjadi pilihan banyak orang karena nilai jualnya yang terus naik dari tahun ke tahun. Berinvestasi emas adalah sebuah strategi sistem lindung nilai terhadap modal dalam rangka menghadapi kondisi perekonomian yang tidak pasti saat ini.

Melakukan investasi dalam emas berbeda dengan saham atau obligasi. Emas bisa dibeli dengan mudah secara fisik dalam bentuk batangan maupun perhiasan. Namun apabila memang berniat untuk investasi, sebaiknya belilah emas dalam bentuk batangan. Seorang muslim harus mengetahui cara investasi emas yang halal dan tidak menyalahi hukum Islam.

hukum investasi emas dalam islam

Inilah Hukum Investasi Emas dalam Islam

Sebagai negara dengan penduduk Islam terbanyak, maka tidak heran jika segala aktivitas perdagangan harus jelas status hukumnya secara syariah. Termasuk juga hukum investasi emas dalam Islam. Berikut adalah ketentuan melakukan jual beli emas berdasarkan hadis Rasulullah yang dijadikan pedoman dalam melakukan investasi:

Proses jual beli harus dilakukan secara tunai

Hukum jual beli emas dalam Islam mengatur pembelian emas tidak boleh dilakukan dengan cara berhutang. Tujuannya adalah untuk mencegah harga emas yang berubah saat akan melunasinya. Aturan ini juga dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim mengenai aturan barter 6 barang ribawi. Adapun yang termasuk barang ribawi yaitu emas, perak, gandum kasar, gandum halus, kurma, dan garam.

“Jika emas ditukar emas, perak ditukar perak, gandum bur (halus) ditukar gandum bur. Gandum syair (kasar) ditukar gandum syair, kurma ditukar kurma, garam ditukar garam, maka takarannya harus sama dan tunai. Jika benda yang ditukarkan berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian asalkan dari tangan ke tangan (tunai).” Hadis ini adalah salah satu panduan hukum investasi emas dalam Islam.

hukum investasi emas dalam Islam

Nilai tukar harus sepadan atau sama nilainya

Apabila emas ditukar dengan benda lain, maka nilainya harus sama persis, tidak lebih dan tidak kurang. Benda tersebut haruslah sepadan, artinya berada dalam satu kelompok. Para ulama sepakat untuk mengelompokkan barang ribawi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah emas menurut Rasulullah dan perak. Kelompok kedua adalah gandum kasar, gandum halus, kurma, dan garam.

Pada masa kini, mata uang dan semua alat tukar seperti uang kartal dapat dimasukan ke dalam kelompok pertama. Sedangkan dalam kelompok kedua termasuk juga semua bahan makanan yang dapat disimpan. Berdasarkan hal ini maka hukum investasi emas dalam Islam membolehkan barter antara emas dan uang karena masih dalam satu kelompok. Syaratnya harus tunai.

Saling menerima

Apabila kedua belah pihak telah menyepakati transaksi jual beli emas, maka keduanya harus saling menerima. Pembeli tidak boleh menunda pembelian dan penjual tidak boleh menunda penyerahan barang. Jika dijual saat ini, maka barang harus diserahkan saat itu juga. Bagaimana jika pembelian emas dilakukan secara non tunai? Bagaimana hukum investasi emas dalam Islam tentang hal ini?

Hukum Investasi Emas dalam Islam Secara Non Tunai di Indonesia

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa soal jual beli emas secara tidak tunai yang dikeluarkan melalui Dewan Syariah Nasional. Fatwa ini pada intinya mengijinkan jual beli emas secara tidak tunai. Hukum investasi emas dalam Islam secara non tunai menurut MUI adalah mubah atau diperbolehkan. Terdapat beberapa ketentuan dalam jual beli emas secara non tunai.

Hukum investasi emas dalam Islam menurut fatwa MUI memperbolehkan jual beli emas secara tidak tunai melalui cara biasa atau murabahah. Kebijakan ini diputuskan untuk Indonesia setelah melalui pertimbangan hukum dan kepentingan sosial lainnya. Jual beli emas secara non tunai harus memenuhi ketentuan utama yaitu emas tersebut tidak menjadi alat tukar resmi semacam uang.

Ketentuan lain adalah harga jual tidak boleh bertambah selama masa perjanjian dilangsungkan. Meskipun pada saat itu ada perpanjangan waktu setelah jatuh tempo. Emas yang dibeli melalui pembayaran non tunai boleh dijadikan jaminan, akan tetapi tidak boleh dijualbelikan. Emas yang dijadikan jaminan ini tidak diperkenankan menjadi objek akad lain yang mengakibatkan ganti pemilik.

Investasi Emas dalam Islam

Pada dasarnya hukum investasi emas dalam Islam membolehkan seorang muslim melakukan investasi ini. Apabila telah mencapai nasabnya sebanyak 85 gram, maka wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Sesuai dengan ketentuan yang telah dijelaskan di atas, perjanjian jual beli emas ditukar dengan uang tunai pada saat itu juga. Terakhir, emas dan uang yang ditukarkan harus memiliki bentuk yang jelas.

Lalu, bagaimanakah aturan dalam Islam tentang hukum menjual emas ketika harga naik? Islam tidak melarang seseorang untuk menjual emas simpanan di saat harganya tinggi. Hal ini berarti agama tidak melarang seseorang membeli sesuatu dengan tujuan untuk mencari keuntungan dengan menjualnya di saat harga naik. Islam memperbolehkan asal tidak merugikan kepentingan orang lain.
hukum investasi emas dalam Islam

Pendapat Ulama Tentang Investasi Emas Secara Angsuran

Beberapa ulama memiliki pendapat yang berbeda mengenai investasi emas secara angsuran di Indonesia. Hukum investasi emas rumaysho mengharamkan jual beli emas secara kredit. Sesuai dengan hadits riwayat Muslim di atas bahwa emas merupakan barang ribawi yang proses jual belinya harus dilakukan secara tunai.

Ulama yang melarang hukum investasi emas dalam islam secara angsuran di Indonesia berpatokan pada hadits Rasulullah lain. Bahwa harusnya melakukan jual beli sesuai kehendak secara tunai jika jenis barang ribawi itu berbeda. Para ulama yang melarang angsuran menganggap barang ribawi termasuk uang di dalamnya. Oleh karenanya pertukaran antara uang dan emas haruslah dilakukan secara tunai.

Adapun ulama yang membolehkan jual beli emas dengan cara angsuran berdasarkan pendapat dari Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim tentang jual beli perhiasan. Ibnu Qayyim memperbolehkan seseorang melakukan jual beli perhiasan dari emas, perak, ataupun sejenisnya asal sama kadarnya. Kelebihannya dijadikan kompensasi jasa pembuatan perhiasan.

Ibnu Qayyim juga menyebutkan bahwa jual beli perhiasan tersebut diperbolehkan berupa pembayaran tunai maupun dicicil (pembayaran tangguh). Adapun syaratnya adalah perhiasan tersebut tidak dijadikan sebagai uang (harga). Ulama lain juga mengatakan bahwa emas adalah barang yang dijualbelikan seperti barang biasa dan bukan sebagai alat pembayaran (uang).

Demikianlah ulasan artikel mengenai investasi emas menurut Islam yang bisa Anda jadikan pertimbangan sebelum melakukan investasi logam mulia. Beberapa ulama melarang jual beli secara angsuran karena emas digolongkan sebagai barang ribawi. Jika hal itu terjadi maka pertukaran tersebut dikatakan sebagai transaksi riba.

Sedangkan hukum investasi emas dalam islam di Indonesia yang mengijinkan transaksi secara angsuran beranggapan masyarakat tidak memperlakukan emas sebagai uang. Emas diperlakukan sebagai barang (sil’ah) misalnya berupa perhiasan. Oleh karena itu melakukan transaksi non tunai untuk investasi emas tidak dilarang. Kini, terserah Anda hendak mengikuti pendapat yang mana.

Tinggalkan komentar